Inconsistency & immaturity, will it work??

“Karisma membuatmu berada di atas, tapi karakter-lah yang membuatmu bertahan di sana..”


Well, guys.. Kembali ke hari Senin, dimana kesibukan dimulai lagi. Gw mesti bangun cepat lagi dan buru-buru ke kampus untuk masuk kelas pagi jam 7.15, tapi selesai jam 9, trus baru dilanjut kelas lain lagi ntar sore jam 14.30. Blum lagi jam 5 sore gw harus ada rapat lagi..

Mengingat gw ada rapat acara pas jam 5 sore nanti, tadi pagi gw tiba-tiba ingat satu kalimat di atas waktu di jalan menuju ke kampus. Sebenarnya kata-kata ini datang bukan cuma sengaja datang, tapi gw teringat kata-kata ini karena ketua panitia acara gw ini kelihatannya tidak terlalu mementingkan kata-kata yang udah gw sebutkan tadi.

Di persiapan acara ini, gw ditunjuk buat bantuin jadi salah satu koordinator divisi dan gw juga udah mengumpulkan beberapa adik kelas untuk jadi tim kerja gw. Panitia acara ini sendiri sebenarnya udah dibentuk tepat satu tahun yang lalu dan persiapannya udah sering tertunda karena beberapa masalah internal, salah satunya adalah karena beberapa panitia dari satu angkatan yang sama mengundurkan diri dari kepanitiaan secara bersamaan. Hal ini sempat membuat kepanitiaan ini jadi “timpang sebelah” dan terhenti sementara.

Gw sendiri sempat bingung kenapa mereka berkeinginan untuk mengundurkan diri, padahal sebenarnya gw merasa ga ada hal-hal signifikan dan bermasalah terjadi di dalam kepanitiaan ini. Tapi setelah gw usut-usut lagi, ternyata mereka mengundurkan diri karena masalah kepemimpinan si ketua panitia yang menurut mereka terlalu tegas, dan terlalu mengutamakan “kekuasaan”, jadi membuat mereka tidak berani bertindak ini-itu hanya karena si ketua memutuskan sesuai kehendaknya sendiri. Mereka merasa setiap kali datang ke rapat, mereka merasakan suasana yang terlalu tegang dan itu membuat mereka ga tahan sama situasi itu.

Menurut gw sendiri, itu hal yang terlihat ga dewasa, karena sewaktu gw masuk ke dalam rapat, gw ga merasakan hal itu. Mungkin gw ga merasakan hal itu karena gw teman seangkatan dengan ketua panitia dan sudah terbiasa dengan tindakannya dia. But I should learn to put myself on their shoes, karena ga semua orang punya perasaan yang sama dengan gw. Mereka berhak mengeluarkan pendapat dan bertindak sesuai keinginan mereka, serta menurut mereka benar. Gw sendiri bertindak apa yang menurut gw benar, jadi gw ga terlalu ikut campur dengan keadaan ini dan gw lebih baik mengerjakan pekerjaan gw sendiri yang jauh lebih penting.

Seiring berjalannya waktu, si ketua mulai berusaha untuk mencari panitia baru untuk menggantikan panitia-panitia yang sudah keluar. Tapi begitu si ketua udah menemukan panitia-panitia yang baru, dia udah mulai jarang ngajakin kita (baca: panitia) untuk ngumpul dan rapat bersama lagi. Semuanya udah mulai jalan sendiri-sendiri. Acara juga diundur, dan setelah hampir 5 bulan panitia terbentuk, gw baru sadar satu hal: PROPOSAL ACARA BELUM DI-APPROVE SAMA ORANG-ORANG ATAS!!!

Melihat kenyataan ini, gw yang berusaha untuk mengikuti cara kerja orang pada umumnya adalah menunggu proposal acara untuk diterima, dan gw ga berani menyentuh pekerjaan gw karena keadaan yang masih belum pasti. Gw ngelihat ketua gw masi santai-santai dan me-remind gw cuma sekedar kalau dia ingat dan kepikiran sama gw.

Dan sekarang, proposal sudah di-approve dan waktu tinggal 3 minggu lagi menuju hari H, kita belum ada progress sama sekali. Si ketua masi ga pernah ngumpulin kita untuk rapat. Kerjaan dia masi sama, hanya mengingatkan pekerjaan gw kalo semisalnya dia ingat sama gw. Yang gw perhatikan, dia lebih memilih untuk senang-senang sama temannya, dibandingkan bekerja dan bersusah-susah. Gw akui, gw sendiri ga berusaha dan bersusah-susah, karena gw melihat dia sendiri ga mau melakukan hal yang sama. Kalo dari ketuanya sendiri ga mau bersusah payah, buat apa gw bersusah payah juga??

Mengingat kejadian tentang panitia yang sempat keluar bersamaan beberapa waktu yang lalu, gw jadi berpikir untuk melakukan hal yang sama juga. Gw berpikir untuk keluar dari kepanitiaan ini, karena panitianya udah kehilangan fokus, ga ada lagi kesatuan hati. Di kepanitiaan – kepanitiaan sebelumnya, gw juga sempat berpikir untuk keluar, tapi alasannya adalah karena gw udah ga sanggup lagi dengan kerjaan-kerjaan yang semakin lama semakin banyak, dan gw udah mengeluarkan cukup banyak tenaga untuk melakukan pekerjaan itu. Tapi sekarang, gw justru pengen keluar karena alasan yang simpel, hanya karena: Gw ga melihat fokus dari ketua dan gw udah ga bisa memberikan kontribusi apa-apa lagi karena gw ga tau apa yang harus gw kerjakan. IT’S THAT SIMPLE..

Gw bukan berniat untuk menjatuhkan kedudukan si ketua karena apa yang sudah di lakukan, tapi apa yang dapat gw pelajari dari kalimat yang gw tulis di bagian atas itu menunjukkan bahwa karakter itu hal yang penting. Konsistensi dan kedewasaan sangat diperlukan waktu elu memimpin orang-orang di bawah elu, meskipun sebenarnya pengalaman elu ga banyak di mata orang. That’s all…

Moga-moga cerita ini bisa jadi bahan refleksi bwt teman-teman semua… Thx…

GOD Bless!!

Rgrds,

-Kika-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s