What I Watch : “The Human Condition – Living Without Money” – KBS World, South Korea

Hola everyone..!!!

It’s been a long time after my last post. Waktunya untuk post baru di segmen “What I Watch”..🙂

Jadi, kali ini gw mau membahas tentang variety show asal Korea yang berjudul “The Human Condition”(singkatan: THC), atau judul aslinya “인간의 조건” (in-gan-e jo-geon).

“The Human Condition” members (upper left-right: Yang Sangguk, Jung Taeho, Kim Junhyeon; lower left-right: Heo Gyeonghwan, Park Seongho, Kim Junho)

Pic credit: www.kshow.tv

Acara ini masih tergolong acara baru, karena baru mulai disiarkan sejak akhir tahun yang lalu di KBS World. Cast dari acara ini adalah 6 komedian (gagmen) KBS Gag Concert, yaitu: Park Seongho, Kim Junho, Jung Taeho, Kim Junhyeon, Heo Gyeonghwan, dan Yang Sangguk.

Di setiap episode, para gagmen/komedian ini dikasi satu misi untuk hidup tanpa adanya salah satu kebutuhan dasar dari manusia modern (mis: hidup tanpa sampah, hidup tanpa menggunakan mobil pribadi, hidup tanpa gadget elektronik, hidup tanpa uang, dll.) selama beberapa hari. Jadi selama misi tersebut, mereka diberikan tempat tinggal bersama di sebuah rumah, dan kehidupan mereka direkam sampai misi itu selesai. Misi-misi yang diberikan bukan untuk membuat mereka hidup susah, tapi untuk mengetahui apa saja yang menjadi syarat bagi manusia modern jaman sekarang untuk bisa merasa bahagia. Apakah mereka masih bisa hidup bahagia tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar itu?

So, karena gw lagi bosen dengan variety show Korea yang tipenya haha-hihi (don’t get offended, I’m still a big fan of “Running Man” though.. Hahaha… ) dan pengen mencari suasana baru dan ilmu baru, I ended up watching this show. Sebenarnya gw nonton acara ini bukan karena mau ngedapetin ilmu-nya, karena dari semenjak KBS “1 Night 2 Days” memasuki season 2 dan gw terus menerus nonton “Running Man” (yang notabene dari channel TV Korea yang lain, yaitu SBS), gw jadi agak pesimis sama variety show dari channel KBS karena terkesan boring dan biasa-biasa aja.

Format acara ini sendiri terlihat kayak campuran sana-sini, seperti campuran antara acara dokumenter dengan variety show khas Korea. Mungkin karena line-up personelnya yang notabene berprofesi sebagai komedian, jadi gw masi bisa menikmati sedikit sisi lucu dari acara ini. Kalo semisalnya acara ini dibawakan oleh aktor ato aktris biasa, bukan ga mungkin kalo acara ini bakalan terlihat kayak sekedar acara dokumenter biasa, dan bakalan terlihat awkward kalo mereka ga bisa ngasih bumbu-bumbu humor di acara ini.

Watching this show from my tablet is more convenient than taking such a long time to download “Running Man” into my laptop, so I ended up watching this show. Kebetulan juga, channel Youtube KBS World yang biasanya cuma meng-upload jadwal acara bulanan / mingguan sama acara Entertainment News, sekarang juga meng-upload beberapa siaran-siaran unggulan mereka, kayak “Gag Concert”, “Happy Together”, “1 Night 2 Days”, “Music Bank” (lengkap dengan English Subtitle!!), termasuk juga acara “The Human Condition” ini semenjak 2-3 bulan yang lalu.

Baru 4 episode THC yang di-upload di channel ini, semuanya merekam kegiatan personil-nya selama 6 hari dengan misi: HIDUP TANPA UANG. Dompet mereka dan semua uang disita dan bakal dikembalikan setelah misi ini selesai. Kalau mereka butuh uang untuk makan, mereka boleh cari uang dengan cara bekerja part-time ato cara lainnya, tapi ga boleh menggunakan kemampuan dan status mereka sebagai komedian. Jadi, uang honor sebagai artis pun ga bole dipakai sama sekali selama misi ini berlangsung. Kalo mau makan, ya mesti kerja keras cari uang (atau bergantung sama yang namanya: HOKI!! Lol…)

Episode 1 (Youtube link)

Episode 2 (Youtube link)

Episode 3 (Youtube link)

Episode 4 (Youtube link)

credits to: KBS World Youtube Channel

Selama 6 hari itu, mereka semua meng-eksplor kemampuan mereka di luar karir mereka sebagai komedian. Ada yang mencoba sistem barter (menukar barang miliknya dengan barang milik orang lain yang punya nilai harga sedikit lebih tinggi), ada yang mencoba jadi valet parking pribadi buat rekan-rekan sesama komedian, terus ada juga yang kerja jadi badut part-time di theme park, jadi petugas isi minyak di pom bensin, jadi pelayan di restoran, jadi tukang cuci piring, jadi tukang cuci kamar mandi. Semuanya dikerjakan di waktu luang, jadi schedule mereka sebagai artis tetap dijalankan, tanpa uang di kantong ato di dompet sama sekali.

Most of all, setelah nonton acara ini, gw jadi seneeeeeng banget sama Jung Taeho & Yang Sangguk. Jung Taeho is like “The Man of The House”, dia yang memasak makanan buat personil-personil lainnya kalo dia ada di rumah. Bayangin aja, setelah dia udah kerja keras untuk ngumpulin duit, dia kepikiran buat masak curry rice bwt personil yang lain (yang seharian udah menahan lapar ato menghemat dengan cuma makan mie instan + kimchi tiap hari). Ga cuma itu, meskipun dia ada schedule pagi-pagi, dia masi sempet-sempetnya menyiapkan bekal kimbap buat anggota yang lain yang belum bangun. Wooooowwwww… Kalo Jung Taeho ada duplikatnya (plus masi single. Lol…), mungkin bisa gw jadiin suami deh!!!! Huahahahahaha… Kan lumayan, tiap hari ada yang masakin makanan, jadi pekerjaan rumah berkurang satu bwt gw…. Huahahahahahaha…

Lain lagi sama Yang Sangguk. Meskipun anggota paling muda (alias magnae), dia bisa jadi tempat curhat bwt personil lain yang frustrasi soal uang. Meskipun dia juga ngerasa susah, tapi dia tetep dengerin curahan hati personil yang lain, bahkan sampe dibeliin bir supaya mereka bisa lebih nyaman waktu ngobrol. (fyi, Korean people are hardcore alcohol drinker. They may drink even in the day time, just like us drinking coffee). Plus, dia satu-satunya personil yang inget sama tanggal ultah personil yang lainnya (which is Jung Taeho and Park Seongho), dan punya ide bwt ngasih surprise party bwt mereka, meskipun ga mewah karena lagi ga punya uang. Dia rela untuk kerja part-time untuk ngumpulin uang supaya bisa beli cake dan bikin surprise party kecil-kecilan bwt kedua personil itu di hari ke-5 misi berlangsung. Dia juga yang mengajak personil lain supaya sama-sama ngumpulin uang untuk surprise party Jung Taeho sam Park Seongho. Ooo sooo sweeeeettttt….🙂

Banyak moral of the story yang bisa gw dapet setelah menonton acara ini, salah satunya adalah untuk belajar hidup hemat, meskipun kita punya uang yang banyak, cobalah untuk berpikir dua kali sebelum membeli barang – apakah kita beneran butuh ato cuma laper mata aja? Sewaktu mereka kerja keras untuk ngumpulin uang hanya untuk menghilangkan rasa lapar di perut, gw belajar kalo kita ga passionate sama apa yang kita kerjakan, kita ga akan mendapatkan apa-apa dari yang kita kerjakan. Selain itu kita juga harus mengerti bahwa kebahagiaan itu ga bisa kita dapatkan dari uang, uang itu cuma alat untuk meng-upgrade kebahagiaan kita. Buktinya, mereka ga butuh pergi ke theme park yang tiket masuk-nya bisa berpuluh-puluh ribu won untuk bisa bersenang-senang dan menghabiskan weekend, pergi ke taman bermain yang selevel pasar malam juga bisa senang kok asalkan sama temen-temen dan saudara-saudara terdekat kita. In the end, tujuannya tetap untuk bersenang-senang kan??

I really recommend each of you to watch this show, karena acaranya ga muluk-muluk. Bukan acara yang punya kesan humanis yang terlalu berat, dan bukan juga acara cuma sekedar haha-hihi, tapi tetap punya moral of the story yang bisa kita petik dan kita praktekkan di kehidupan sehari-hari.

Have you watched this show?? How’s your opinion?? Leave your comments below and thanks for your time… Bye!!

GOD Bless!

Regards,

-Mariska-

Random Discoveries about: “The Little Nyonya” Drama Series ;P

OK guys, kali ini gw mw memberikan beberapa hal random yang gw temukan setelah menonton drama “The Little Nyonya”. Seperti yang kalian tau, beberapa minggu belakangan ini gw sangat terobsesi dengan drama ini dan akhirnya membuat gw untuk bertemu dengan “mbah” Google untuk mencari tau informasi tentang drama ini. Hahaha..

First Random Discoveries:

Pertama, gw searching di Youtube dan Google soal opening theme song dari drama ini. Judulnya “Ru Yan” (如燕) ato dalam bahasa Inggris-nya “Like a Swallow” dan dibawakan oleh Olivia Ong.

Awalnya gw berniat buat nge-review lagu ini di bagian “Post The Playlist”, tapi setelah dipikir-pikir lagi, lebih baik gw masukkan di satu blog post “Random” ini karena gw ga bisa menemukan official MV dari lagu ini. Hampir semua yang gw temukan di Youtube adalah live performance dari lagu ini.

Sejak pertama kali gw nonton “The Little Nyonya”, my curiousity was starting to build up because of this song. May I say kalo lagu ini tuh terdengar “antik” di telinga? Because the music is infused with different kind of instruments, dari alat-alat musik tradisional dan juga  alat musik modern. Di intro lagu terdengar bunyi akordeon yang biasa kita dengar di lagu-lagu tradisional khas Melayu, seperti yang sering kita dengar dari Siti Nurhaliza atopun Iyeth Bustami. Tapi di tengah-tengah ada gitar dan biola yang berpadu dengan bunyi gamelan. I found the music is “perfectly infused”, sama seperti budaya Peranakan yang merupakan peleburan budaya Tionghoa, Melayu, dan juga Eropa.

Selain background music-nya, gw juga terenyuh sama suaranya Olivia Ong yang “empuukkk” banget… Waktu gw search lebih lanjut tentang Olivia Ong, ternyata Olivia adalah seorang penyanyi asal Singapura yang musik-musiknya kebanyakan beraliran Jazz dan Bossa Nova. Hampir semua lagu-lagu yang dibawakan Olivia adalah cover version dari lagu-lagu berbahasa Inggris sama Jepang, dan lagu “Ru Yan” ini adalah salah satu dari sedikit lagu yang dibawakan dalam bahasa Mandarin oleh Olivia.

Second Random Discoveries:

Okay, penemuan yang kedua ini mungkin bisa jadi penemuan paling random yang bakalan gw sampein ke kalian semua. Buat kalian yang nonton serial drama ini, pasti tau si Yamamoto Yousuke, si fotografer asal Jepang yang jadi ayahnya Yue Niang. Pemeran Yamamoto Yousuke ini namanya Dai Yang Tian (atau dalam tulisan Simplified Chinese: 戴阳天)

Dai Yang Tian (戴阳天)

Dai Yang Tian sendiri adalah aktor kelahiran RRC dan sekarang berbasis di Singapura, mulai muncul di tahun 2008 dan ‘big break’ pada saat berperan sebagai Yamamoto Yousuke di serial “The Little Nyonya”. Semenjak saat itu, minimal sekali dalam setahun Yang Tian pasti muncul di serial-serial berbahasa Mandarin di Singapura. Semenjak tahun 2010, Yang Tian selalu masuk dalam nominasi “Top 10 Most Popular Male Artistes” di acara Star Awards, yaitu salah satu acara penghargaan pertelevisian terbesar di Singapura, yang dikhususkan untuk acara-acara ato tayangan berbahasa Mandarin.

Mungkin kalian bingung, kenapa si Dai Yang Tian ini bisa masuk ke daftar random discoveries gw?? Alasan kenapa gw memasukkan Dai Yang Tian ke daftar ini karena dia adalah selebritis pertama yang memiliki family name yang sama dengan family name gw, alias Dai (戴)!! Well, alasan ini super-random, jadi gw ijinkan kalian untuk guling-guling atopun mengernyit heran.Lol… ;P

Semenjak gw pertama kali dikasi asupan serial-serial Asia (drama-drama Korea dan Taiwan) oleh nyokap dan tante gw dari jaman SD, rasanya gw ga pernah menemukan satu artis pun yang punya nama keluarga yang sama dengan nama keluarga gw. Mungkin karena memang nama keluarga 戴 emang ga terlalu pasaran, ga kayak Lee (李) atopun Chen (陈) yang lumayan sering ditemukan dimana-mana. And I was just so surprised to know that there’s a celebrity out there with the same family name!!! Eventhough ga penting-penting amat, but it’s nice to know more about my family name and learn about the 戴 family tree in the future.

So, buat kalian yang udah nonton “The Little Nyonya”, adakah hal-hal random yang kalian temukan waktu nonton serial ini?? Leave your comments below!!! Thanks a lot, guys..

Regards,

-Mariska-

What I Watch (First Volume Ever!!!) : The Little Nyonya (2008-2009)

Hola, everyone..!! I’m happy for the “What I Watch” first volume!!! How’s your week?? Minggu ini gw sedang gelisah, karena menunggu hasil interview kerja dengan tahap super-panjang yang gw ikuti sejak 2 minggu yang lalu. I hope this week I will get a good news from them. *praying* Amen.

Selama beberapa minggu belakangan ini, gw lagi gila-gilanya nonton satu drama yang udah lama banget dirilis, sekitar tahun 2008-2009. Judulnya “The Little Nyonya” (小娘惹) – drama ini asalnya dari Singapura sepanjang 34 episode. Oke, gw yakin kalian semua pasti heran, mengingat selama ini gw getol banget nonton drama Korea yang semuanya up-to-date. Jujur, gw sendiri heran kenapa gw kepengen nonton drama yang satu ini. Mengingat drama ini berbahasa Mandarin (I’m not a Mandarin or Taiwanese drama-geek), dan drama-drama asal Singapura cenderung monoton, mengingat sentralisasi penyiaran di negara Singa itu. Semua saluran TV dan aktor-aktris dipegang oleh satu perusahaan, yaitu “MediaCorp”. Beda sama di negara kita yang punya berbagai macam Production House ato stasiun TV atopun manajemen artis yang semuanya dipegang sama orang yang berbeda-beda. (gw ga tau apakah sekarang masi seperti itu, tapi yang pasti terakhir kali gw ke Singapura – Juni 2011 – setiap kali gw nonton TV di hotel, semua stasiun TV pasti ada embel-embel “MediaCorp”)

“The Little Nyonya”

Sewaktu gw nonton drama ini, gw udah sempat kepikiran untuk menulis blog tentang drama ini, dan sewaktu drama ini selesai minggu lalu, gw semakin berniat untuk nulis semua kesan yang gw dapat setelah menonton film ini, ga peduli udah seberapa lama drama ini dirilis. Drama ini sangat worthed untuk gw yang sedang istirahat sejenak dari drama-drama Korea belakangan ini yang kebanyakan punya plot yang sama dari satu channel ke channel lain (maksud: tema time-traveling, tema cowo yang ga bisa melepas cinta pertama-nya, dll.. lol)

“The Little Nyonya” sendiri mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang perempuan dari keturunan Peranakan di Melaka, Malaysia yang bernama Yamamoto YueNiang (山本月娘) dan semua orang yang berkaitan erat dengan kehidupannya sebelum dia lahir di tahun  1930-an sampe tua dan meninggal. Dari ibunya YueNiang yang bisu-tuli dan berasal dari keluarga Peranakan yang kaya di Melaka, tapi selalu di-bully dan direndahkan oleh anggota keluarganya dikarenakan dia lahir dari seorang pembantu keluarga Huang yang diperkosa oleh si pemilik rumah sewaktu muda. Ibunya YueNiang alias Juxiang ini juga sempat dipaksa menjadi istri kedua seorang pengusaha besar di Singapura, Charlie Zhang, namun pernikahan dibatalkan karena JuXiang melarikan diri dari rumah dan akhirnya bertemu dengan ayahnya, Yamamoto Yousuke. Yamamoto yang seorang fotografer Jepang yang begitu tertarik dengan tradisi dan budaya Peranakan akhirnya menikah dan membawa pergi Juxiang ke Singapura, namun sayang nasib pernikahan mereka tidak beruntung. Pasangan ini meninggal sewaktu perang, ketika Jepang menjajah Singapura pada tahun 1940-an.

YueNiang yang masih kecil, pergi kembali ke Melaka dan bertemu dengan neneknya yang masi tinggal di rumah keluarga Huang, meskipun seluruh penghuni rumah sudah pergi ke Inggris untuk menghindari peperangan di kampung halamannya dan meninggalkan seisi rumah beserta pekerja-pekerjanya di Melaka. YueNiang dibesarkan sendiri oleh neneknya dan banyak belajar tentang masakan khas Peranakan dan sulaman manik-manik khas Nyonya yang merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh wanita-wanita Peranakan (Nyonya) pada masa itu.

YueNiang dewasa memiliki keahlian memasak dan menyulam yang luar biasa seperti ibunya dan semakin hari semakin mirip kecantikannya dengan sang ibu yang telah meninggal. Pada saat itu perang sudah berakhir, dan semua penghuni rumah keluarga Huang kembali ke Melaka. Pada saat itu juga YueNiang mulai diperlakukan sama seperti ibunya – direndahkan dan dicemooh – tapi caranya menghadapi setiap masalah dan ketegarannya pada akhirnya membuat orang-orang yang memperlakukannya sadar akan kesalahannya.

Ga hanya itu yang bisa dilihat dari YueNiang, ada juga cerita cintanya dengan Chen Xi yang ga berakhir dengan baik (mau tau kan? makanya nonton aja di Youtube yaaa… ;P), ada juga sepupunya, YuZhu yang luar biasa baik terhadap YueNiang tapi punya nasib yang akhirnya punya nasib yang jauh lebih buruk dari YueNiang. Dan juga bagaimana YueNiang terpaksa menikah dengan Liu Yidao, seorang tukang potong babi, namun akhirnya malah saling bersumpah untuk menjadi saudara dan saling membantu untuk mengembangkan bisnis sarang burung walet yang dimiliki YueNiang.

Kalau kalian nonton drama ini sampe abis, mungkin kalian sendiri akan merasa kalau jalan cerita di drama ini ga jauh beda dengan drama-drama Mandarin yang lain: cinta segitiga, peran protagonis yang selalu di-bully, dan si antagonis yang sanggup bikin kita dendam sama dia. Ya, mungkin sama, tapi justru jalan ceritanya yang simpel ini yang sanggup bikin gw jatuh cinta dengan drama ini. Ketika gw mulai jenuh sama jalan cerita drama-drama up-to-date yang semakin ‘inovatif’ dan semakin rumit belakangan ini, drama ini bikin gw flashback lagi ke drama-drama di akhir 90-an dan awal 2000-an yang gw nonton dulu dan yang ga neko-neko semacam “Kabut Cinta” (Taiwan),“Meteor Garden” (Taiwan), ato “My Girl” (Korea), “Hotelier” (Korea), ato “My Name is Kim Sam Soon” (Korea).

Selain itu, gw juga senang banget sama setting cerita drama ini, di sekitar tahun 1930 sampe 1960-an, dimana suasana budaya Peranakan baik itu di Melaka dan di Singapur masi sangat-sangat kental terasa. Setting rumah dengan arsitektur dan interior khas budaya Peranakan tempo dulu benar-benar dibuat secara maksimal, dari ruang tamu, tiah gelap (ruang gelap khusus buat gadis-gadis Peranakan supaya bisa mengintip tamu yang datang), kamar tidur, ruang makan, altar leluhur, dan dapur khas Peranakan dimana semua makanan-makanan enak khas Nyonya dibuat. I’m seriously in love with it!!!

Altar Leluhur / Ancestral Hall (source: The Little Nyonya official website)

Jendela interior (source: The Little Nyonya official website)

Ruang tamu (source: The Little Nyonya official Website)

“Tok Panjang” alias Meja Makan (source: The Little Nyonya official website)

Yah, ini baru sebagian foto-foto yang bisa kalian liat dari pembuatan drama ini dan thanks to the official website, kalian juga bisa melihat secara lengkap foto-foto yang gw masukkan di atas..🙂 Kalian juga bisa tau informasi lebih banyak tentang drama ini di link yang udah gw kasi di atas.🙂

Selain setting-nya yang bikin gw jatuh cinta, makanan-makanan khas Peranakan ato buatan Nyonya yang ditampilkan di drama ini sukses bikin perut gw keroncongan. Ada beberapa makanan yang familiar bwt gw dan bikin gw kangen sama makanan ini (well, to be honest, waktu gw selesai nonton salah satu episode yang ada “ikan asam pedas”, oma gw jg baru selesai buat “ikan asam pedas” di dapur. MANTAP!!!! Lol..) dan ada juga beberapa makanan yang bikin gw penasaran bwt icip-icip. Angku kue, es cendol, ikan asam pedas, babi ponteh, go hiong (five spice roll), ayam bumbu keluak, capcai nyonya, pulut inti, rempah udang, kue dadar, you name it and I want to eat it!!! Hahahaha….

Big feast!! Source: The Little Nyonya official website

Selain itu, gara-gara nonton drama ini, gw jadi kepengen pergi jalan-jalan ke Melaka dan Singapura lagi. Ga cuma untuk hunting makanan-makanan Nyonya, tapi juga pergi ke lokasi shooting-nya yang katanya juga di Melaka. Mengingat gw baru sekali ke Melaka waktu tahun 2008, dan itu pun cuma singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Singapura. Waktu itu, gw cuma sempat nyobain es cendol, dan belum sempat keliling ke sana sini dan menilik lebih jauh setiap peninggalan-peninggalan budaya Peranakan di kota itu. I want to go there!!! Huuuaaaaa…. *guling-guling di kasur*

Meskipun banyak hal-hal yang bikin gw jatuh cinta sama drama ini, tapi ada juga beberapa cela yang bikin gw il-feel. Pertama, gw prihatin sama si pemeran pria utama, Chen Xi, bukan karena cintanya yang tak sampai, tapi karena baju yang dipakainya. Sepertinya, selain waktu main polo, di rumah sakit, dan meeting dengan pejabat-pejabat Inggris, Chen Xi selalu pake kemeja putih, kemeja putih, dan kemeja putih. Waktu pertama kali ketemu YueNiang: pake kemeja putih, waktu di rumah: kemeja putih, waktu patah hati: kemeja putih, waktu diculik: kemeja putih. WHHAaaaattt???? Chen Xi, emangnya semua duit elu cuma untuk beli kemeja putih???? Kenapa tiap hari dia pake kemeja putih?? Tian Bao (kakak laki-laki dari YuZhu) – yang notabene ga lebih kaya dari keluarga Chen –  aja bisa modis dengan gonta-ganti warna cardigan, kemeja abu-abu, kemeja coklat, dasi warna-warni… TAPI CHEN XI??? Kemeja putih FTW!!!!!  Mungkin kalo Chen Xi ini beneran ada, mungkin sekarang reinkarnasi-nya adalah Pak Dahlan Iskan yang sama-sama selalu pake kemeja putih. Trolololololol……..

Kedua, gw penasaran sama kelanjutan hidupnya Chen Xi setelah ditinggal sama ZhenZhu dan menikah dengan Libby. Ya, memang YueNiang pernah cerita kalau Chen Xi punya enam orang anak dari pernikahannya dengan Libby, dan punya usaha yang sukses, jadi dermawan yang suka membantu orang-orang miskin, tapi gw mau liat dengan mata kepala gw sendiri kalau itu benar adanya. Setidaknya ada pembuktian langsung kalau memang akhirnya Chen Xi dan YueNiang masing-masing memang punya hidup yang bahagia meskipun mereka ga bisa bersama.

Selain penasaran sama Chen Xi, gw juga penasaran kelanjutan hidup beberapa orang setelah YueNiang meninggal, misal: gimana Liu YiDao setelah YueNiang menikah dengan Paul?? Gimana YuZhu setelah bayinya diadopsi sama YueNiang?? Apakah dia udah meninggal di rumah sakit jiwa? Dimana pula Paul sewaktu YueNiang udah meninggal? Aaaaa…. I’m curious!!!!

Overall, I super-looovveee this drama. Drama ini ga cuma sekedar menjual cerita dan plot, tapi juga berhasil menghidupkan kembali budaya yang secara tidak kita sadari perlahan-lahan mulai memudar. Menurut informasi, drama ini sendiri juga punya rating penonton tertinggi di negara asalnya selama 15 tahun terakhir sewaktu ditayangkan. Hebat ga tuh??

Akting para pemain juga oke, dan mungkin itu juga yang bikin banyak orang yang “terserap” dan jatuh cinta sama drama ini. Terbukti bagaimana gw bisa penasaran sama kelanjutan ceritanya setiap kali gw selesai nonton satu episode!!

Kadang-kadang gw jadi berpikir sendiri dengan keadaan pertelevisian di negara kita ini. Gimana caranya untuk meningkatkan mutu sinetron-sinetron di Indonesia yang kebanyakan hanya menonjolkan jumlah episode yang bisa sampe beratus-ratus, soundtrack dari lagu-lagu jaman sekarang yang lagi nge-hits, dan pemain-pemainnya yang mayoritas kebanyakan publicity stunt dan gosip kawin-cerai sana-sini?? Bagaimana dengan menonjolkan inti dari jalan ceritanya dan lokasi shooting yang lebih memadai dan bukan hanya sekedar rumah gedongan asal jadi?? Negara Singapura yang jauh lebih kecil dari Indonesia dan punya sistem sentralisasi dalam penyiaran ini bisa lebih maju dari negara ini, buktinya yah dengan drama “The Little Nyonya” ini. Gimana dengan Indonesia yang punya banyak production house dan stasiun TV yang tersebar dan bermacam-macam, tapi ga punya satupun tayangan sinetron yang sekreatif dan sekelas sama tayangan drama-drama luar?? Well, it’s just some of my thoughts…🙂

How about you guys?? Adakah “refreshing” drama yang kalian nonton belakangan ini?? Tell me about it, and I’ll wait for your comments below!!! See you next time!!

Regards,

-Mariska-

P.S: Kalau kalian mau tau lebih dalam tentang budaya Peranakan, kalian bisa buka link wikipedia di sini, dan kalau kalian mau tau lebih lanjut tentang jalan cerita drama “The Little Nyonya” ini, kalian juga bisa buka link wikipedia di sini. Thanks a lot for your time!!🙂

Post The Playlist (Vol. 4) : Lee Hi – “Rose”

Hola everyone!!! How’s your weekend?? Now I’m back with new “Post The Playlist”!! Hari ini UN hari kedua buat teman-teman yang duduk di kelas 3 SMA, so I wish all of you the best of luck dan selamat berjuang, teman-teman!! Persiapkan dengan matang, take it easy, jangan sampai stress, and just be confident. Your fight is almost over, and your future is just right at the next stop!! Jia you!!

Kali ini, kita akan membahas tentang the latest single dari Lee Hi, yaitu: “Rose”.

Cover of Lee Hi - "First Love" Album

Cover of Lee Hi – “First Love” Album

Seperti janji gw di “Post The Playlist” sebelumnya, gw akan me-review single kedua dari album terbaru Lee Hi, yaitu “Rose”. Single “Rose” sendiri dirilis tanggal 28 Maret 2013, dan setelah 2 minggu dirilis, video klip-nya sendiri udah mencapai 2,8 juta penonton. Single ini masuk ke dalam bagian ke-2 (part 2) dari keseluruhan full album pertama Lee Hi, yaitu “First Love: 1st Album”. Sebelumnya, Lee Hi sudah merilis “First Love Part 1” dengan lagu “It’s Over” sebagai hit single-nya. (cek review “Post The Playlist” untuk lagu ini di sini.) Dengan dirilisnya lagu “Rose” ini, menandakan bahwa lengkap sudah full album “First Love” milik Lee Hi ini. So, let’s us start the review!!🙂

***The Music***

I seriously enjoy this style of song! Berbeda dengan single pertama “It’s Over” yang mostly jazz and blues, “Rose” muncul dengan slow R&B yang ‘mendayu-dayu’. Di lagu ini, Lee Hi menonjolkan kemampuan suara low-note-nya yang sangat pas dengan atmosfer lagu ini yang terasa sedih. Waktu gw pertama kali dengar lagu ini, gw sempat merasa kalo lagu ini “kekurangan klimaks”, karena gw kebanyakan mendengar suara low-note Lee Hi di lagu ini, dan suara high-note di lagu ini jarang muncul. Tapi setelah melihat video klip dan mempelajari lirik lagu-nya lagi, gw jadi yakin kalo lagu ini dibuat seperti ini dikarenakan pengen menonjolkan atmosfir sedih dan mellow, sama kayak lagu “Blue”-nya Bigbang.

Selain suara low-note-nya, di sini kita juga bisa dengar bagian rap Lee Hi. Mungkin karena Lee Hi bukan ahli dalam rapping, jadi bagian rap di lagu ini terkadang terkesan “misterius” (which is good :)), tapi juga terkadang terkesan “bikin ngantuk” (which is bad😦 ). Untuk bagian rap ini, gw jadi berandai-andai kalo semisalnya bagian ini diganti sama orang-orang yang lebih ahli dalam rapping dari YG Ent., seperti CL ato GD atopun T.O.P (yang notabene punya suara ‘timbre-bass’ yang mungkin cocok sama warna lagu ini). Tapi gw juga takut kalo kehadiran senior-senior ini bisa memindahkan spotlight lagu ini dari Lee Hi ke si senior-senior ini. So, sepertinya tidak apa-apa bagi Lee Hi untuk mencoba nge-rap, mungkin next time Lee Hi mesti belajar lagi sama oppa T.O.P supaya rapping-nya lebih mantap, kayak waktu di “K-Pop Star” dulu… Heheheehehe…

***The Video***

credit: OfficialLEEHI Youtube Channel

May I say that this video is so fuuuulllllllll of roses??? Hahaha… (ya iyalah, judul lagunya aja “Rose”, kalo judulnya “Rafflesia Arnoldi”, bakalan aneh kalo video-nya bukan full of bunga bangke.. lol…) Di video ini, bunga mawar ada di mana-mana. Di kepala Lee Hi, di langit-langit, ada hujan kelopak bunga, di kepala penari latar. It’s just so full of roses!!!

Sebenarnya, ga cuma bunga-bunga mawar aja yang ditonjolkan di video klip ini. Buat gw, video klip ini sangat-sangat artsy, yang mungkin penuh dengan perumpamaan-perumpamaan yang mungkin cuma bisa dimengerti oleh si pembuat video klip. Banyak adegan-adegan yang ga bisa gw mengerti secara langsung begitu gw lihat, ato mungkin ini salah satu trik itu menyeimbangkan kesan misterius yang didapat sewaktu gw dengar lagu ini. I don’t know, tapi yang jelas, meskipun dengan kemampuan interpretasi seni gw yang minim, gw masi bisa melihat usaha 100% dari YG Entertainment dan Lee Hi dalam video klip ini. Attention to detail dari setiap potongan-potongan adegan di video klip ini bikin gw pengen nonton lagi dan lagi. Contohnya seperti ini:

 

Roses at the attic...

Roses at the attic…

White Roses Set...

White Roses Set…

Black and white roses setting

Black and white roses setting

Red thorns

Red thorns

Every rose has its thorn..

Every rose has its thorn..

Written black & white banner

Written black & white banner

See how it’s done? Ini cuma beberapa capture dari video klip, dan meskipun video klip ini ga ada plot / jalan cerita yang jelas, but at least dengan setting video klip ini, gw sangat-sangat yakin bahwa video klip ini worth to be watched.

Oiya, satu lagi yang gw suka dari video klip ini adalah makeup Lee Hi yang simpel, yang menonjolkan eye makeup dengan warna peachy-coral dan pink lembut. Ga cuma itu, soft lens ungu dan red hot lips-nya were just simply gorgeous!!! 

Overall, terlepas dari betapa biased-nya gw dengan Lee Hi belakangan ini, I just love this song. Suara low-tone (ato low-note?? please correct me if I’m wrong.. :)) Lee Hi bisa pas banget dengan genre musik slow R&B di lagu ini. Mungkin buat teman-teman yang ga terlalu suka dengan lagu “It’s Over” sebelumnya yang mungkin terlalu playful dan cutesy, this song should be one of your choice. Gw cuma berharap satu saat Lee Hi bisa kolaborasi dengan 2NE1 ato Bigbang di album-album berikutnya dan juga supaya Lee Hi tetap konsisten dalam jalur yang dia pilih sekarang, karena dia bisa melesat lebih jauh lagi sebagai penyanyi. GO, Lee Hi!!!!

So, bagaimana pendapat kalian tentang lagu “Rose” ini?? What’s your playlist today? Jangan lupa komentar yah!! Plus, kasi tau gw lagu K-Pop apa yang mau dibahas di Post The Playlist selanjutnya… (maybe next week I will review PSY’s “Gentleman”, so better wait, guys…) ^^

Thanks for your attention!!

Regards,

-Mariska-

Post The Playlist (Vol. 3) : Lee Hi – “It’s Over

Hola everyone!!!  I’m back with new “Post The Playlist”!! Setelah beberapa minggu gw M.I.A alias Missing in Action karena sakit cacar air (T.T) dan mesti berkurung di rumah dengan tingkah yang serba salah karena takut menularkan penyakit ke adek gw, akhirnya gw bisa kembali nulis dan berhadapan dengan laptop kesayangan gw. Hahahaha… Maklum, sakit cacar air gw lumayan parah, jadi gw takut lepuhan cacar-nya pecah dan nular ke barang-barang yang gw pake bareng sama adek gw, termasuk laptop ini.(eeww… I know that’s gross… Sorry.. (-.-“)) But now, I’m back!!! Hahahahahaha….

Kali ini, kita akan membahas tentang single terbaru dari Lee Hi, yaitu: “It’s Over”.

Album Cover Lee Hi "First Love" Part 1

Album Cover Lee Hi “First Love” Part 1

Single ini adalah single kedua dari Lee Hi setelah lagu debutnya yang berjudul “1 2 3 4”. Lee Hi sendiri adalah juara 2 dari talent show dari Korea Selatan, “K-Pop Star” dan sekarang bernaung di perusahaan YG Entertainment. (tau YG kan? Bigbang, PSY, 2NE1 semuanya berasal dari perusahaan ini..🙂 ) Yah meskipun ini single kedua “Rose” dari album ini udah dirilis minggu yang lalu, tapi kedua lagu ini punya kesan yang jauh berbeda. I love them both, jadi gw akan bikin review sendiri untuk “Rose” di waktu yang akan datang, secara lagu “It’s Over” ini sering banget gw putar di iPod selama gw sakit, jadi I must make a review for this song!!!🙂

***The Music***

Sebenarnya, semenjak Lee Hi debut dengan single “1 2 3 4”, gw udah jatuh cinta sama suaranya dia. Kalo di belantika musik K-Pop, suaranya Lee Hi yang jazzy ini jarang ditemukan dimana-mana. Suaranya yang setipe sama Adele, Norah Jones ato Renee Olstead membuat dia jadi penyanyi yang unik dibanding dengan solois K-Pop yang lain.

Lee Hi sendiri ada jebolan dari acara “K-Pop Star” season 1, sebuah acara talent show yang disiarkan di stasiun SBS (kalo yang punya TV kabel, bisa nonton di Sony Entertainment Channel) dan sekarang udah berjalan sampe season 2. Lee Hi dinobatkan jadi juara 2 dari hasil polling sms pemirsa “K-Pop Star” di Korea Selatan, sedangkan juara 1 dimenangkan oleh Park Ji Min, yang sekarang bernaung di management JYP.

Meskipun Lee Hi cuma dapet juara 2 di acara “K-Pop Star”, tapi dia ga kalah ‘eksis’ di dunia K-Pop dibandingkan dengan si juara 1, Park Ji Min. Dengan dirilisnya single “It’s Over” dan “Rose” kali ini membuktikan bahwa Lee Hi ga cuma sekedar jebolan talent show pada umumnya yang cuma terkenal selama acara berlangsung dan mulai perlahan-lahan menghilang di dunia hiburan begitu acara selesai. Comeback-nya setelah “1 2 3 4” membuktikan kalo Lee Hi ga cuma sekedar one-hit-wonder. Dan kalau gw denger keseluruhan album “First Love” ini, YG Entertainment kelihatan sangat berusaha untuk mengembangkan talenta yang dimiliki Lee Hi, bukan hanya untuk menguntungkan perusahaan, tapi juga untuk menunjukkan bahwa Lee Hi bisa diterima oleh masyarakat luas dengan bakat yang dia punya.

Lagu “It’s Over” sendiri bercerita tentang seorang perempuan yang mau putus dengan pacarnya karena udah ga tahan lagi sama hubungan-nya. Kesan jazzy di lagu ini bener-bener cocok dibawakan oleh Lee Hi. Genre musik di lagu ini bukan seperti lagu-lagu K-Pop mainstream yang biasa gw denger. Biasanya lagu-lagu ini kebanyakan muncul di indie K-Pop semacam 10cm (coba denger lagu “Americano” mereka! I’m seriously addicted to it!!) ato Jung In (yang biasa kolaborasi dengan Gary & Gil di grup LeeSsang). Lagu ini juga udah beberapa kali jadi front runner di acara-acara music chart di Korea seperti SBS Inkigayo, MBC Music Core, dan M Countdown. Ga cuma jadi front runner, tapi juga berhasil jadi juara 1 di music chart tersebut.

Mungkin recording label di Korea harus mulai perlahan-lahan beralih untuk mem-publicize solois-solois dengan suara unik seperti Lee Hi, karena buktinya genre musik yang biasanya muncul secara indie di Korea ternyata bisa berhasil di mainstream line K-Pop secara internasional pula… Good job, Lee Hi!!!

***The Video***

credit: OfficialLEEHI Youtube Channel

Konsep video klip “It’s Over” ini sangat playful, dengan gummy bears, mainan-mainan anak-anak dan kostum-kostum yang dipakai Lee Hi juga unik dan senada sama konsep video klip ini sendiri. Wkwkwkwk…

Salah satu hal yang paling eye-catching waktu gw pertama kali nonton video klip ini, adalah badut beruang gendut ini yang berpakaian ala G-Dragon di video klip “One of a Kind” dan Taeyang, plus mata si beruang yang berbentuk bulan sabit terbalik.. Berulang-ulang gw nonton bagian ini, gw semakin kepengen mengguling-gulingkan ini beruang di lantai…

See this?? GD’s “One of A Kind” Teddy Bear… ;P

Video klip ini juga penuh dengan snack-snack yang berhubungan dengan teddy bear ato si beruang biru gendut di video klip ini. Ada gummy bears, teddy bear cookies, teddy bear cereals, dan bahkan Lee Hi sendiri juga nari bareng sama eskrim dan cereal box ukuran lifesize yang lebih besar dari badan Lee Hi sendiri.

Berbicara soal menari, dance moves Lee Hi di video klip ini tipenya minimalis. Ada beberapa kemungkinan (menurut hipotesa gw) kenapa video klip ini punya dance moves yang cuma muncul di bagian chorus lagunya. Pertama, mungkin karena lagu dengan genre jazz seperti ini jarang menggunakan dance moves yang rumit (coba bayangkan dance moves gaya boy band ato girl band K-Pop yang rumit-rumit dipake di lagu-lagu Adele?? Must be weird… (-.-“)) Kedua, mungkin karena konsep YG Entertainment yang ga sama dengan management company yang lain, dimana grup K-Pop pentolan YG kayak Bigbang ato 2NE1 juga ga terlalu menonjolkan dance moves mereka di setiap video klip yang mereka rilis, tapi single-single mereka tetap hits di pasaran. Ketiga, mengingat sejarah audisi Lee Hi di “K-Pop Star”, gerakan Lee Hi entah kenapa selalu terlihat awkward di depan para juri. Sampe-sampe di tahap awal audisi dimana Lee Hi pernah nari lagu “I Am The Best” – 2NE1, juri “K-Pop Star” (BoA & JYP) sempat menyuruh Lee Hi untuk mengurangi berat badan, bukan supaya terlihat menarik, tapi supaya badan terasa lebih ringan waktu nari. Dan semenjak itu, Lee Hi jarang banget perform dengan lagu-lagu dance dan kalo dia nyanyi lagu dance, juri-juri pasti bkal kelihatan senyum-senyum ato ketawa-ketawa kecil dengan awkward mood around.. Lol… Lagipula, tau sendiri kan ada artis YG selain Lee Hi yang juga jarang “bergerak” dan mengandalkan suara rendah dan nge-bass-nya??? (tau kan?? tau kan?? itu loh, yang inisialnya ‘T’.. Lol..)

Overall, I love this single, both listening to the song and watching the video clip. Video clip-nya masi dalam standar masuk akal dalam video klip K-Pop, ga keliatan “terpaksa ada” dan cocok dengan Lee Hi yang masi umur anak sekolah yang petite dan imut-imut. Masi banyak “room for improvement” buat Lee Hi, mengingat dy debut kurang lebih satu tahun. Suara Lee Hi yang soulful dan jazzy ini ngebuat dy unik dan dengan bekerja di bawah perusahaan sebesar YG, gw senang kalo genre musik yang dibawakan Lee Hi bisa diterima secara mainstream di belantika musik K-Pop. Asalkan Lee Hi bisa konsisten dengan tetap menghasilkan karya-karya yang bagus, gw yakin dia bisa sebesar nama senior-seniornya kayak Bigbang, 2NE1, Se7en, atopun PSY. GO Lee Hi!!!!

So, bagaimana pendapat kalian tentang lagu “It’s Over” ini?? What’s your playlist today? Jangan lupa komentar yah!! Plus, kasi tau gw lagu K-Pop apa yang mau dibahas di Post The Playlist selanjutnya… ^^

Thanks for your attention!!

Regards,

-Mariska-

At The Shelves (1st Volume!! :)) : “Sunshine Becomes You” by Ilana Tan

Hola, everyone! Another post from me! Di segmen baru “At The Shelves” ini, gw akan membahas tentang buku-buku yang gw baca, entah itu buku terbitan lama ataupun yang baru. Dan buku yang gw baca pun bisa bermacam-macam, entah itu novel, buku-buku motivasi, atopun buku panduan perjalanan. So, I hope you’ll enjoy it!!🙂

Kalo diliat dari judul, kalian pasti udah tau kalo untuk “At The Shelves” pertama ini gw akan membahas tentang novel “Sunshine Becomes You” yang ditulis oleh Ilana Tan. Ya, buku ini sebenarnya udah terbit dari taun lalu sekitar bulan Januari 2012, tapi karena satu dan lain hal yang terjadi taun lalu, gw baru beli buku ini kira-kira 3 minggu yang lalu berbarengan dengan buku “Seasons to Remember” yang ditulis oleh Ilana Tan juga. (will review it, soon! :))

"Sunshine Becomes You" & "Seasons to Rember" by Ilana Tan

“Sunshine Becomes You” & “Seasons to Remember” by Ilana Tan

Ilana Tan sendiri adalah penulis buku tetralogi 4 Musim, yang terdiri atas “Summer in Seoul”, “Autumn in Paris”, “Winter in Tokyo”, sama “Spring in London”. Keempat buku ini terbit sekitar tahun 2007 – 2010 dan termasuk dalam kategori (menurut gw) chicklit, ato novel romance yang diperuntukkan bagi wanita-wanita muda kisaran usia 17-25 tahun. Gw sendiri senang dengan gaya menulis Ilana yang santai namun tetap dengan bahasa yang baku, mengingat kebanyakan novel-novel fiksi yang setipe yang tetralogi 4 musim ini cenderung memakai gaya bahasa yang santai dan kalau pun baku, kesannya bisa terlalu kaku. Sedangkan tetralogi 4 musim ga seperti itu dan begitu juga di “Sunshine Becomes You”.

"Tetralogi 4 Musim" by Ilana Tan

“Tetralogi 4 Musim” by Ilana Tan

Seperti tetralogi 4 musim, “Sunshine Becomes You” juga ber-setting di salah satu kota besar yang terkenal di dunia, yaitu New York. Salah satu alasan lagi kenapa gw suka buku-buku Ilana Tan adalah karena setting cerita-nya yang selalu berada di kota-kota besar di dunia. Gw jadi lebih mudah membayangkan apa dilakukan oleh tokoh di buku tersebut, dan tanpa sengaja gw juga ikut travelling di kota tersebut bersama si tokoh. Hehehe…

"Sunshine Becomes You" front cover

“Sunshine Becomes You” front cover

"Sunshine Becomes You" back cover

“Sunshine Becomes You” back cover

Plot dari buku ini sebenarnya sudah sering kita temui di novel-novel lain ataupun di drama-drama yang kita tonton di televisi, karena buku ini bercerita tentang si pria, Alex Hirano, seorang pianis yang tanpa sengaja dilukai oleh Mia Clark yang sama-sama berprofesi sebagai guru tari dengan Ray Hirano, adiknya Alex. Dari kejadian itu, Mia Clark berusaha meminta maaf kepada Alex Hirano dengan menjadi pesuruh di apartemen Alex, dan dari situlah perlahan-lahan rasa saling mencintai itu tumbuh.

Berdasarkan pengalaman gw menonton drama-drama Korea yang punya awal jalan cerita yang seperti ini (tokoh utama pria dan tokoh utama wanita saling benci pada awalnya, tapi karena sering ketemu akhirnya jatuh cinta juga), gw menduga ending cerita ini bakal berakhir happily ever after. Tapi, ternyata tidak. (APA?? TIDAKK??? NOOO….. *lebay* lol… ) Meskipun kedua-nya (Alex dan Mia) saling mencintai, tapi ternyata Mia akhirnya meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya sejak lama. Well this what I called “happy ending’s gone wrong” atau “sad ending in disguise” – meskipun akhirnya kelihatan saling mencintai, tapi ternyata akhirnya berpisah juga di akhir cerita. Mau tau maksudnya lebih jelas?? It will be a spoiler kalo gw ceritain lebih detail.. Makanya, baca bukunya!! Lol..😀

Overall, I like this book. (not “LOVE”, but just “LIKE”) Secara garis besar, ceritanya memang sudah sering kita temui di novel-novel lainnya. Setidaknya, Ilana Tan masi berhasil bikin gw penasaran dengan ending-nya, dan proses yang dialami sama kedua tokoh utama sampe mereka bisa saling jatuh cinta dan saling membutuhkan satu sama lain. Gaya bahasa-nya yang masi konsisten dengan bahasa baku yang terlihat santai seperti novel-novel terjemahan luar kayak novel-novelnya yang terdahulu juga bikin gw suka sama novel yang satu ini. “Sad ending in disguise” ato “Happy ending’s gone wrong” yang muncul di cerita-nya Alex Hirano dan Mia Clark ini juga yang bikin buku ini jadi salah satu novel romance favorit gw.

Let me end this review with a quote from the book:

“Satu-satunya penyesalanku dalam hidup adalah aku tidak bisa bersamamu sekarang dan mengatakan semua ini secara langsung kepadamu. Tapi tolong percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku selalu ingin bersamamu. Percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku selalu ingin berada di dekatmu. Dan percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku juga mencintaimu.”

“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”

So, setelah baca novel ini, novel apalagi yang menurut kalian juga punya “sad ending in disguise” ato “happy ending’s gone wrong”? Leave it in comments below!! I’ll wait for it!!

Thanks all!!

Regards,

-Mariska-

Hola everybody! I’m back again with another new “Post The Playlist. Pertama-tama, gw mw ngucapin banyak-banyak terima kasih untuk kalian yang udah membaca “Post The Playlist” sebelumnya. Seperti yang kalian tahu, review sebelumnya adalah review pertama yang pernah gw buat. Gw memang bukan kritikus profesional, jadi gw hanya berusaha untuk menjelaskan apa yang gw lihat, dengar dan rasa untuk kalian, so that all of you can enjoy what I’ve enjoyed!! Afterall, all the posts that I’ve made are all for fun, right?? So, I really hope that all of you can really have fun with all of my reviews. :)))

Kali ini, kita akan membahas tentang single terbaru dari SHINee, yaitu: “Dream Girl”.

Okay, berapa banyak di antara kalian yang SHINee-biased (atau biasa disebut Shawol)??? Angkat tangan!!! (*gw ikutan angkat tangan* lol…)

credit to: here

Penantian satu tahun para Shawol terbayar sudah. Setelah singleSherlock” yang dirilis tahun lalu, SHINee baru muncul alias comeback lagi tahun ini dengan single terbaru-nya “Dream Girl“. ^^v

***The Music***

Waktu gw pertama kali dengar lagu ini, “Dream Girl” ga langsung bisa dengan cepat dicerna sama telinga gw. Mungkin karena ga ada printilan-printilan bahasa Inggris yang aneh-aneh dan ga jelas di dalam lagunya, kayak waktu gw pertama kali denger lagu “Ring Ding Dong” (tau kan bagian liriknya “Fantastic Elastic Fantastic Elastic“-nya?? Lol…) ato “Lucifer” (tau juga kan bagian “Loveaholic Robotronic Loveaholic Robotronic“?? Ada yang ngerti maksudnya??).

Yah meskipun arti dari printilan-printilan itu ga bakalan bisa dimengerti sampe kapanpun, setidaknya itu yang sanggup bikin lagu itu jadi easy listening di telinga gw. Tapi gw juga senang karena di lagu ini, musiknya punya style yang beda sama musik-musik SHINee sebelumnya. Kalo dicoba denger lagi, kali ini ada unsur-unsur genre funk, blues, jazz yang khas dengan gitar-nya digabung sama genre dance yang biasa dibawain sama SHINee.

Gw juga senang sama perpaduan vokal dan rap di lagu ini. Perpaduannya pas, ga keliatan dipaksa supaya MinHo punya bagian rap di lagu ini. Terkadang ada beberapa lagu-lagu K-Pop terlihat seperti terpaksa untuk memasukkan bagian rap, supaya si rapper punya bagian yang signifikan di lagu mereka. (mungkin di post selanjutnya gw bisa kasi contoh beberapa lagu yang menurut gw punya kesan “Rap terpaksa”, if you request it.. ^^)

Meskipun bagian vokal MinHo di sini masi sedikit, at least suaranya udah kedengaran lebih mantap dibandingkan vokal MinHo di single “Hello” dulu. Kita tau sendiri kalo posisi MinHo sebagai rapper di SHINee, dan di single ini, style rap-nya MinHo juga udah semakin keliatan.

***The Video***

credit: SMTOWN Youtube Channel

Boleh ga kalo gw bilang, video ini adalah film “Inception” versi SHINee??? Masing-masing personil tertidur, terbangun di dunia mimpi, dengan mimpi hitam putih plus ruangan yang bisa berputar 360 derajat, trus ada trampolin di ujung ruangan. Kalo dari segi video, gw sudah memaklumi setiap artis-artis SM yang video klip-nya selalu di-set dengan “ruangan kubus” khas SM Ent. Karena selalu begitu, sekarang gw cuma bisa menilai bagaimana setting “ruangan kubus” itu di-dekor supaya bisa sesuai dengan konsep lagu yang dibawakan.

Setting SHINee ‘Dream Girl” MV

Oke, mungkin kali ini “ruangan kubus” berganti alas menjadi trapesium. Kalo diperhatikan lagi, setting ini bisa cukup menggambarkan lagu “Dream Girl“. Mungkin ruang terbalik ini bisa menggambarkan dunia mimpi yang terbalik-balik kayak “Inception“. Not bad lah, SM Ent…

Selain itu, efek transisi dari satu scene ke scene lain di MV ini bikin gw bingung waktu pertama kali gw nonton MV ini. Ada semacam efek yang biasa kita liat kalo lagi nonton siaran TV yang setengah rusak. Gw pikir komputer gw yang rusak, ternyata efek transisi itu dateng dari MV-nya, bukan dari komputer gw. lol….

Dari segi dance, SHINee memang udah terkenal dengan dance  moves yang rumit dan susah ditiru. Kali ini di single “Dream Girl” pun tetap begitu, dan SHINee mencoba hal baru dengan bermain-main sama properti standing-mic yang mereka pakai. Nice job, SHINee!!! ^^

Terus, coba perhatikan kostum yang mereka pakai di MV ini. Gw bisa berpesan: SHINee, pertahankan style pakaian suit & jacket yang ada di MV ini. Please, jangan pake pakaian yang aneh-aneh lagi kayak di MV “Lucifer”. Dan tolong perhatikan wardrobe Taemin. Gw geli ngeliat turtleneck warna pink dengan statement necklace perempuan plus celana pink-hijau-kuning yang menyala-nyala itu. SM Entertainment ato siapapun stylist-nya SHINee, urus Taemin baik-baik yah!!

Overall, gw suka sama lagu ini karena SHINee berani mencoba memasukkan genre musik baru di lagu-lagu mereka, trus ga ada lagi printilan-printilan bahasa Inggris yang aneh kayak di “Lucifer” dulu, dan dance mereka jadi semakin oke dengan mencoba bermain-main dengan standing-mic..

So, bagaimana pendapat kalian tentang lagu “Dream Girl” ini?? What’s your playlist today? Jangan lupa komentar yah!! Plus, kasi tau gw lagu K-Pop apa yang mau dibahas di Post The Playlist selanjutnya… ^^

Thanks for your attention!!

Regards,

-Mariska-