What I Watch (First Volume Ever!!!) : The Little Nyonya (2008-2009)

Hola, everyone..!! I’m happy for the “What I Watch” first volume!!! How’s your week?? Minggu ini gw sedang gelisah, karena menunggu hasil interview kerja dengan tahap super-panjang yang gw ikuti sejak 2 minggu yang lalu. I hope this week I will get a good news from them. *praying* Amen.

Selama beberapa minggu belakangan ini, gw lagi gila-gilanya nonton satu drama yang udah lama banget dirilis, sekitar tahun 2008-2009. Judulnya “The Little Nyonya” (小娘惹) – drama ini asalnya dari Singapura sepanjang 34 episode. Oke, gw yakin kalian semua pasti heran, mengingat selama ini gw getol banget nonton drama Korea yang semuanya up-to-date. Jujur, gw sendiri heran kenapa gw kepengen nonton drama yang satu ini. Mengingat drama ini berbahasa Mandarin (I’m not a Mandarin or Taiwanese drama-geek), dan drama-drama asal Singapura cenderung monoton, mengingat sentralisasi penyiaran di negara Singa itu. Semua saluran TV dan aktor-aktris dipegang oleh satu perusahaan, yaitu “MediaCorp”. Beda sama di negara kita yang punya berbagai macam Production House ato stasiun TV atopun manajemen artis yang semuanya dipegang sama orang yang berbeda-beda. (gw ga tau apakah sekarang masi seperti itu, tapi yang pasti terakhir kali gw ke Singapura – Juni 2011 – setiap kali gw nonton TV di hotel, semua stasiun TV pasti ada embel-embel “MediaCorp”)

“The Little Nyonya”

Sewaktu gw nonton drama ini, gw udah sempat kepikiran untuk menulis blog tentang drama ini, dan sewaktu drama ini selesai minggu lalu, gw semakin berniat untuk nulis semua kesan yang gw dapat setelah menonton film ini, ga peduli udah seberapa lama drama ini dirilis. Drama ini sangat worthed untuk gw yang sedang istirahat sejenak dari drama-drama Korea belakangan ini yang kebanyakan punya plot yang sama dari satu channel ke channel lain (maksud: tema time-traveling, tema cowo yang ga bisa melepas cinta pertama-nya, dll.. lol)

“The Little Nyonya” sendiri mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang perempuan dari keturunan Peranakan di Melaka, Malaysia yang bernama Yamamoto YueNiang (山本月娘) dan semua orang yang berkaitan erat dengan kehidupannya sebelum dia lahir di tahun  1930-an sampe tua dan meninggal. Dari ibunya YueNiang yang bisu-tuli dan berasal dari keluarga Peranakan yang kaya di Melaka, tapi selalu di-bully dan direndahkan oleh anggota keluarganya dikarenakan dia lahir dari seorang pembantu keluarga Huang yang diperkosa oleh si pemilik rumah sewaktu muda. Ibunya YueNiang alias Juxiang ini juga sempat dipaksa menjadi istri kedua seorang pengusaha besar di Singapura, Charlie Zhang, namun pernikahan dibatalkan karena JuXiang melarikan diri dari rumah dan akhirnya bertemu dengan ayahnya, Yamamoto Yousuke. Yamamoto yang seorang fotografer Jepang yang begitu tertarik dengan tradisi dan budaya Peranakan akhirnya menikah dan membawa pergi Juxiang ke Singapura, namun sayang nasib pernikahan mereka tidak beruntung. Pasangan ini meninggal sewaktu perang, ketika Jepang menjajah Singapura pada tahun 1940-an.

YueNiang yang masih kecil, pergi kembali ke Melaka dan bertemu dengan neneknya yang masi tinggal di rumah keluarga Huang, meskipun seluruh penghuni rumah sudah pergi ke Inggris untuk menghindari peperangan di kampung halamannya dan meninggalkan seisi rumah beserta pekerja-pekerjanya di Melaka. YueNiang dibesarkan sendiri oleh neneknya dan banyak belajar tentang masakan khas Peranakan dan sulaman manik-manik khas Nyonya yang merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh wanita-wanita Peranakan (Nyonya) pada masa itu.

YueNiang dewasa memiliki keahlian memasak dan menyulam yang luar biasa seperti ibunya dan semakin hari semakin mirip kecantikannya dengan sang ibu yang telah meninggal. Pada saat itu perang sudah berakhir, dan semua penghuni rumah keluarga Huang kembali ke Melaka. Pada saat itu juga YueNiang mulai diperlakukan sama seperti ibunya – direndahkan dan dicemooh – tapi caranya menghadapi setiap masalah dan ketegarannya pada akhirnya membuat orang-orang yang memperlakukannya sadar akan kesalahannya.

Ga hanya itu yang bisa dilihat dari YueNiang, ada juga cerita cintanya dengan Chen Xi yang ga berakhir dengan baik (mau tau kan? makanya nonton aja di Youtube yaaa… ;P), ada juga sepupunya, YuZhu yang luar biasa baik terhadap YueNiang tapi punya nasib yang akhirnya punya nasib yang jauh lebih buruk dari YueNiang. Dan juga bagaimana YueNiang terpaksa menikah dengan Liu Yidao, seorang tukang potong babi, namun akhirnya malah saling bersumpah untuk menjadi saudara dan saling membantu untuk mengembangkan bisnis sarang burung walet yang dimiliki YueNiang.

Kalau kalian nonton drama ini sampe abis, mungkin kalian sendiri akan merasa kalau jalan cerita di drama ini ga jauh beda dengan drama-drama Mandarin yang lain: cinta segitiga, peran protagonis yang selalu di-bully, dan si antagonis yang sanggup bikin kita dendam sama dia. Ya, mungkin sama, tapi justru jalan ceritanya yang simpel ini yang sanggup bikin gw jatuh cinta dengan drama ini. Ketika gw mulai jenuh sama jalan cerita drama-drama up-to-date yang semakin ‘inovatif’ dan semakin rumit belakangan ini, drama ini bikin gw flashback lagi ke drama-drama di akhir 90-an dan awal 2000-an yang gw nonton dulu dan yang ga neko-neko semacam “Kabut Cinta” (Taiwan),“Meteor Garden” (Taiwan), ato “My Girl” (Korea), “Hotelier” (Korea), ato “My Name is Kim Sam Soon” (Korea).

Selain itu, gw juga senang banget sama setting cerita drama ini, di sekitar tahun 1930 sampe 1960-an, dimana suasana budaya Peranakan baik itu di Melaka dan di Singapur masi sangat-sangat kental terasa. Setting rumah dengan arsitektur dan interior khas budaya Peranakan tempo dulu benar-benar dibuat secara maksimal, dari ruang tamu, tiah gelap (ruang gelap khusus buat gadis-gadis Peranakan supaya bisa mengintip tamu yang datang), kamar tidur, ruang makan, altar leluhur, dan dapur khas Peranakan dimana semua makanan-makanan enak khas Nyonya dibuat. I’m seriously in love with it!!!

Altar Leluhur / Ancestral Hall (source: The Little Nyonya official website)

Jendela interior (source: The Little Nyonya official website)

Ruang tamu (source: The Little Nyonya official Website)

“Tok Panjang” alias Meja Makan (source: The Little Nyonya official website)

Yah, ini baru sebagian foto-foto yang bisa kalian liat dari pembuatan drama ini dan thanks to the official website, kalian juga bisa melihat secara lengkap foto-foto yang gw masukkan di atas.. :) Kalian juga bisa tau informasi lebih banyak tentang drama ini di link yang udah gw kasi di atas. :)

Selain setting-nya yang bikin gw jatuh cinta, makanan-makanan khas Peranakan ato buatan Nyonya yang ditampilkan di drama ini sukses bikin perut gw keroncongan. Ada beberapa makanan yang familiar bwt gw dan bikin gw kangen sama makanan ini (well, to be honest, waktu gw selesai nonton salah satu episode yang ada “ikan asam pedas”, oma gw jg baru selesai buat “ikan asam pedas” di dapur. MANTAP!!!! Lol..) dan ada juga beberapa makanan yang bikin gw penasaran bwt icip-icip. Angku kue, es cendol, ikan asam pedas, babi ponteh, go hiong (five spice roll), ayam bumbu keluak, capcai nyonya, pulut inti, rempah udang, kue dadar, you name it and I want to eat it!!! Hahahaha….

Big feast!! Source: The Little Nyonya official website

Selain itu, gara-gara nonton drama ini, gw jadi kepengen pergi jalan-jalan ke Melaka dan Singapura lagi. Ga cuma untuk hunting makanan-makanan Nyonya, tapi juga pergi ke lokasi shooting-nya yang katanya juga di Melaka. Mengingat gw baru sekali ke Melaka waktu tahun 2008, dan itu pun cuma singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Singapura. Waktu itu, gw cuma sempat nyobain es cendol, dan belum sempat keliling ke sana sini dan menilik lebih jauh setiap peninggalan-peninggalan budaya Peranakan di kota itu. I want to go there!!! Huuuaaaaa…. *guling-guling di kasur*

Meskipun banyak hal-hal yang bikin gw jatuh cinta sama drama ini, tapi ada juga beberapa cela yang bikin gw il-feel. Pertama, gw prihatin sama si pemeran pria utama, Chen Xi, bukan karena cintanya yang tak sampai, tapi karena baju yang dipakainya. Sepertinya, selain waktu main polo, di rumah sakit, dan meeting dengan pejabat-pejabat Inggris, Chen Xi selalu pake kemeja putih, kemeja putih, dan kemeja putih. Waktu pertama kali ketemu YueNiang: pake kemeja putih, waktu di rumah: kemeja putih, waktu patah hati: kemeja putih, waktu diculik: kemeja putih. WHHAaaaattt???? Chen Xi, emangnya semua duit elu cuma untuk beli kemeja putih???? Kenapa tiap hari dia pake kemeja putih?? Tian Bao (kakak laki-laki dari YuZhu) – yang notabene ga lebih kaya dari keluarga Chen –  aja bisa modis dengan gonta-ganti warna cardigan, kemeja abu-abu, kemeja coklat, dasi warna-warni… TAPI CHEN XI??? Kemeja putih FTW!!!!!  Mungkin kalo Chen Xi ini beneran ada, mungkin sekarang reinkarnasi-nya adalah Pak Dahlan Iskan yang sama-sama selalu pake kemeja putih. Trolololololol……..

Kedua, gw penasaran sama kelanjutan hidupnya Chen Xi setelah ditinggal sama ZhenZhu dan menikah dengan Libby. Ya, memang YueNiang pernah cerita kalau Chen Xi punya enam orang anak dari pernikahannya dengan Libby, dan punya usaha yang sukses, jadi dermawan yang suka membantu orang-orang miskin, tapi gw mau liat dengan mata kepala gw sendiri kalau itu benar adanya. Setidaknya ada pembuktian langsung kalau memang akhirnya Chen Xi dan YueNiang masing-masing memang punya hidup yang bahagia meskipun mereka ga bisa bersama.

Selain penasaran sama Chen Xi, gw juga penasaran kelanjutan hidup beberapa orang setelah YueNiang meninggal, misal: gimana Liu YiDao setelah YueNiang menikah dengan Paul?? Gimana YuZhu setelah bayinya diadopsi sama YueNiang?? Apakah dia udah meninggal di rumah sakit jiwa? Dimana pula Paul sewaktu YueNiang udah meninggal? Aaaaa…. I’m curious!!!!

Overall, I super-looovveee this drama. Drama ini ga cuma sekedar menjual cerita dan plot, tapi juga berhasil menghidupkan kembali budaya yang secara tidak kita sadari perlahan-lahan mulai memudar. Menurut informasi, drama ini sendiri juga punya rating penonton tertinggi di negara asalnya selama 15 tahun terakhir sewaktu ditayangkan. Hebat ga tuh??

Akting para pemain juga oke, dan mungkin itu juga yang bikin banyak orang yang “terserap” dan jatuh cinta sama drama ini. Terbukti bagaimana gw bisa penasaran sama kelanjutan ceritanya setiap kali gw selesai nonton satu episode!!

Kadang-kadang gw jadi berpikir sendiri dengan keadaan pertelevisian di negara kita ini. Gimana caranya untuk meningkatkan mutu sinetron-sinetron di Indonesia yang kebanyakan hanya menonjolkan jumlah episode yang bisa sampe beratus-ratus, soundtrack dari lagu-lagu jaman sekarang yang lagi nge-hits, dan pemain-pemainnya yang mayoritas kebanyakan publicity stunt dan gosip kawin-cerai sana-sini?? Bagaimana dengan menonjolkan inti dari jalan ceritanya dan lokasi shooting yang lebih memadai dan bukan hanya sekedar rumah gedongan asal jadi?? Negara Singapura yang jauh lebih kecil dari Indonesia dan punya sistem sentralisasi dalam penyiaran ini bisa lebih maju dari negara ini, buktinya yah dengan drama “The Little Nyonya” ini. Gimana dengan Indonesia yang punya banyak production house dan stasiun TV yang tersebar dan bermacam-macam, tapi ga punya satupun tayangan sinetron yang sekreatif dan sekelas sama tayangan drama-drama luar?? Well, it’s just some of my thoughts… :)

How about you guys?? Adakah “refreshing” drama yang kalian nonton belakangan ini?? Tell me about it, and I’ll wait for your comments below!!! See you next time!!

Regards,

-Mariska-

P.S: Kalau kalian mau tau lebih dalam tentang budaya Peranakan, kalian bisa buka link wikipedia di sini, dan kalau kalian mau tau lebih lanjut tentang jalan cerita drama “The Little Nyonya” ini, kalian juga bisa buka link wikipedia di sini. Thanks a lot for your time!! :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s